Rabu, 11 Juni 2008
K A U
Kaulah rembulan
Kaulah yang kuharapkan
Kaulah cahaya masa depan
Tapi...
Kau kadang menjengkelkan
Kau kadang membuat aku gak karuan
Kau kadang membuat aku gak berpendirian
Kau kadang membuat aku ingin melupakan
Sekarang kau baik
Besok kau jahat
Sekarang kau manis
Besok kau menjemukan
Kenapa..
Kenapa kau tak selalu seperti yang kuinginkan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kuimpikan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kudambakan
Kenapa kau tak selalu seperti yang kuharapkan
Hilangkanlah..
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku sukai
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku senangi
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku ingini
Hilangkanlah sifatmu yang tak ku kuridoi
Kadang aku menyukaimu
Kadang aku membencimu
Kadang aku mencintaimu
Kadang aku ingin meninggalkanmu
Mengapa...
Mengapa terjadi pada diriku
Mengapa terjadi pada jalan hidupku
Hanya tuhanlah yang tahu
Kupasrahkan hidupku bersama Mu
Senin, 09 Juni 2008
SUDAH TERLANJUR SAYANG
Sepulang kantor Martin asik bercanda sama anak-anaknya sambil main FS. Tiba-tiba Hand phonenya berdering, setelah diangkat ternyata Shelly yang menelephone.
“ Assalamuallaikum “, suara Shelly diseberang sana.
“ Waallaikum salam “, jawab Martin.
“ Bisa gak minta tolong menjemput saya ke kampus, susah nih mau bawa barang banyak, hari hujan lagi ?’, kata Shelly memohon.
“ Ya, saya jemput, tunggu ya !” jawab Martin.
Mengetahui Martin mau keluar pakai mobil anak-anaknya bertanya.
“Mau kemana, Pah?. “Boleh ikut donk!” pinta anak – anak Martin.
Martin bingung apa alasan yang mau dikemukakan sama anaknya, kalau dibawa nanti anaknya menanyakan siapa yang dijemput, akhirnya Martin berdalih adik teman kantornya yang mau pulang karena hujan minta tolong diantar ke mobil.
“ Papah mau menjemput Tante Sherlly adik OM Beni teman kantor papah”. Jawab Martin.
Anak-anak Martin sudah kenal dengan Beni karena semenjak ibunya meninggal sering dibawa oleh Martin kekantor. Dan kebetulan Beni satu daerah dengan Sherlly tetapi tidak saling mengenal.
Setelah itu untuk mendekatkan dengan Sherlly Martin sering membawa anak-anaknya bila mau ketemuan, dan nampaknya anak-anak Martin menyukai Sherlly dan Sherlly pun bisa mengambil hati anak-anak Martin sehingga mereka jadi cepat akrab. Padahal sebelum kenal Sherlly setiap ada yang ngomong masyalah perempuan dengan Martin, anak-anaknya selalu ngambek seolah tidak boleh dekat papahnya dengan perempuan.
Setiap hari libur Martin dan anak-anak mengajak Sherli pergi tamasya. Mereka sudah saling menyayangi, setiap hari anak- anak Martin pingin main ketempat kost Sherlly yang tidak berapa jauh dari rumah dinas tempat Martin tinggal bersama anak-anaknya.
Suatu hari gara-gara masalah kecil Martin dan Sherlly pernah berselisih paham. Ada beberapa sifat Sherlly yang kurang disukai Martin. Sherlly paling suka mendiamkan suatu masalah yang disampaikan oleh Martin yang seharusnya dibahas untuk kebaikan bersama.
Tapi Sherlly malah minta tidak mau bertemu beberapa waktu dengan alasan tidak mau terlalu ditekan oleh Martin. Cara Sherlly menjawabnya membuat Martin lebih tersinggung dengan mengatakan, “Aku tidak mau bertemu sampai hatiku baik, dan jangan hubungi aku”.
Menurut Martin, sifat Sherlly yang mendiamkan masalah dan menjauh serta tidak mau bertemu bila ada kesalah pahaman itu akan jadi bumerang nanti didalam rumah tangga.
Sebelum menikah tidak terima dinasehati menjauh tidak mau bertemu dan masalah diamkan saja tidak diselesaikan, dan setelah berumah tangga bila tidak terima dinasehati pergi dari rumah. Itu adalah sifat tidak baik bagi seorang istri yang sangat dibenci oleh agama, dan juga sangat tidak diinginkan oleh Martin terjadi didalam keluarganya.
Mungkin maksud Sherlly hanya sekedar untuk menetralisir hatinya untuk beberapa waktu. Dan Sherlly tidak menyangka sifat dan kata-katanya seperti itu yang dianggap biasa saja bisa berakibat fatal terhadap hubungannya dengan Martin.
Bagi Martin kata-kata Sherly tersebut adalah penghinaan pada dirinya. Martin merasa dirinya seolah sebagai benalu yang menumpang hinggap di suatu pohon, yang setiap saat bisa dibuang begitu saja karena tidak dibutuhkan. Walaupun sudah terlanjur sayang sama Sherly, dan anak-anaknya juga sudah menganggap Sherlly seperti keluarga sendiri dan saling menyayangi. Karena harga dirinya merasa dilecehkan dengan gampangnya oleh Sherlly, membuat Martin jadi emosi. Rencana pernikahan yang sudah dirancangnya bersama Sherlly terancam batal.
Meskipun berat hatinya untuk berpisah dengan Sherlly, demi harga dirinya Martin berniat untuk menjauhkan anak-anaknya dari Sherlly, dan dia sendiri berjanji tidak akan menemui Sherlly sebelum Sherlly minta maaf serta berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Karena kesal dan emosi Martin sempat agak kasar ngomong sama anaknya sewaktu anak-anaknya minta pergi ketempat Sherlly terus.
“ Papah tidak mau kerumah tante Sherlly, dia gak ingin kita datang karena dia sibuk dan tidak mau diganggu, kamu semua pada nakal!” kata Martin kepada anak-anaknya sambil bikin alasan Sherlly lagi sibuk supaya anaknya tidak bertanya-tanya kenapa papahnya tidak mau kesitu.
Setiap habis sholat pun Martin berdoa “Ya Allah ya tuhanku, kalau keberadaannya hanya akan menyakitiku dan anak-anakku, jauhkan lah dia dari kehidupan keluargaku, tetapi kalau kehadirannya dapat penambah kebahagiaan keluargaku satukanlah kami, janganlah ada perselisihpahaman, jauhkanlah sifatnya yang tidak aku dan anak-anakku sukai, dan jauhkanlah sifatku yang tidak dia senangi, satukanlah kami dalam suatu rumah tangga yang bahagia, mawwadah warrahmah serta jauh dari pertengkaran...Aminnnnnnnnnnnnnnn.
Malam itu juga sebelum Martin tertidur, hand phonenya berdering, terdengar suara lembut yang sudah sangat dikenalnya yaitu tidak lain adalah Sherlly. Sherlly menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akanmengulangi lagi dan berusaha untuk memperbaiki sifat-sifatnya yang kurang baik dimata Martin. Sherlly mengatakan sangat tidak menduga kalau hal itu sampai berakibat sepatal itu pada Martin, bahkan Sherlly sempat bilang sama Martin bahwa dia mungkin tidak akan menikah selamanya kalau sampai Martin menggagalkan rencana pernikahannya. Malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan bagi mereka berdua walau hanya bertemu melalui hand phone, dan keduanya sama - sama menangis mengucurkan air mata.
Episode selanjutnya (Selingan)
K A U
“ Assalamuallaikum “, suara Shelly diseberang sana.
“ Waallaikum salam “, jawab Martin.
“ Bisa gak minta tolong menjemput saya ke kampus, susah nih mau bawa barang banyak, hari hujan lagi ?’, kata Shelly memohon.
“ Ya, saya jemput, tunggu ya !” jawab Martin.
Mengetahui Martin mau keluar pakai mobil anak-anaknya bertanya.
“Mau kemana, Pah?. “Boleh ikut donk!” pinta anak – anak Martin.
Martin bingung apa alasan yang mau dikemukakan sama anaknya, kalau dibawa nanti anaknya menanyakan siapa yang dijemput, akhirnya Martin berdalih adik teman kantornya yang mau pulang karena hujan minta tolong diantar ke mobil.
“ Papah mau menjemput Tante Sherlly adik OM Beni teman kantor papah”. Jawab Martin.
Anak-anak Martin sudah kenal dengan Beni karena semenjak ibunya meninggal sering dibawa oleh Martin kekantor. Dan kebetulan Beni satu daerah dengan Sherlly tetapi tidak saling mengenal.
Setelah itu untuk mendekatkan dengan Sherlly Martin sering membawa anak-anaknya bila mau ketemuan, dan nampaknya anak-anak Martin menyukai Sherlly dan Sherlly pun bisa mengambil hati anak-anak Martin sehingga mereka jadi cepat akrab. Padahal sebelum kenal Sherlly setiap ada yang ngomong masyalah perempuan dengan Martin, anak-anaknya selalu ngambek seolah tidak boleh dekat papahnya dengan perempuan.
Setiap hari libur Martin dan anak-anak mengajak Sherli pergi tamasya. Mereka sudah saling menyayangi, setiap hari anak- anak Martin pingin main ketempat kost Sherlly yang tidak berapa jauh dari rumah dinas tempat Martin tinggal bersama anak-anaknya.
Suatu hari gara-gara masalah kecil Martin dan Sherlly pernah berselisih paham. Ada beberapa sifat Sherlly yang kurang disukai Martin. Sherlly paling suka mendiamkan suatu masalah yang disampaikan oleh Martin yang seharusnya dibahas untuk kebaikan bersama.
Tapi Sherlly malah minta tidak mau bertemu beberapa waktu dengan alasan tidak mau terlalu ditekan oleh Martin. Cara Sherlly menjawabnya membuat Martin lebih tersinggung dengan mengatakan, “Aku tidak mau bertemu sampai hatiku baik, dan jangan hubungi aku”.
Menurut Martin, sifat Sherlly yang mendiamkan masalah dan menjauh serta tidak mau bertemu bila ada kesalah pahaman itu akan jadi bumerang nanti didalam rumah tangga.
Sebelum menikah tidak terima dinasehati menjauh tidak mau bertemu dan masalah diamkan saja tidak diselesaikan, dan setelah berumah tangga bila tidak terima dinasehati pergi dari rumah. Itu adalah sifat tidak baik bagi seorang istri yang sangat dibenci oleh agama, dan juga sangat tidak diinginkan oleh Martin terjadi didalam keluarganya.
Mungkin maksud Sherlly hanya sekedar untuk menetralisir hatinya untuk beberapa waktu. Dan Sherlly tidak menyangka sifat dan kata-katanya seperti itu yang dianggap biasa saja bisa berakibat fatal terhadap hubungannya dengan Martin.
Bagi Martin kata-kata Sherly tersebut adalah penghinaan pada dirinya. Martin merasa dirinya seolah sebagai benalu yang menumpang hinggap di suatu pohon, yang setiap saat bisa dibuang begitu saja karena tidak dibutuhkan. Walaupun sudah terlanjur sayang sama Sherly, dan anak-anaknya juga sudah menganggap Sherlly seperti keluarga sendiri dan saling menyayangi. Karena harga dirinya merasa dilecehkan dengan gampangnya oleh Sherlly, membuat Martin jadi emosi. Rencana pernikahan yang sudah dirancangnya bersama Sherlly terancam batal.
Meskipun berat hatinya untuk berpisah dengan Sherlly, demi harga dirinya Martin berniat untuk menjauhkan anak-anaknya dari Sherlly, dan dia sendiri berjanji tidak akan menemui Sherlly sebelum Sherlly minta maaf serta berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama dan berusaha untuk memperbaiki semuanya.
Karena kesal dan emosi Martin sempat agak kasar ngomong sama anaknya sewaktu anak-anaknya minta pergi ketempat Sherlly terus.
“ Papah tidak mau kerumah tante Sherlly, dia gak ingin kita datang karena dia sibuk dan tidak mau diganggu, kamu semua pada nakal!” kata Martin kepada anak-anaknya sambil bikin alasan Sherlly lagi sibuk supaya anaknya tidak bertanya-tanya kenapa papahnya tidak mau kesitu.
Setiap habis sholat pun Martin berdoa “Ya Allah ya tuhanku, kalau keberadaannya hanya akan menyakitiku dan anak-anakku, jauhkan lah dia dari kehidupan keluargaku, tetapi kalau kehadirannya dapat penambah kebahagiaan keluargaku satukanlah kami, janganlah ada perselisihpahaman, jauhkanlah sifatnya yang tidak aku dan anak-anakku sukai, dan jauhkanlah sifatku yang tidak dia senangi, satukanlah kami dalam suatu rumah tangga yang bahagia, mawwadah warrahmah serta jauh dari pertengkaran...Aminnnnnnnnnnnnnnn.
Malam itu juga sebelum Martin tertidur, hand phonenya berdering, terdengar suara lembut yang sudah sangat dikenalnya yaitu tidak lain adalah Sherlly. Sherlly menyadari kesalahannya dan berjanji tidak akanmengulangi lagi dan berusaha untuk memperbaiki sifat-sifatnya yang kurang baik dimata Martin. Sherlly mengatakan sangat tidak menduga kalau hal itu sampai berakibat sepatal itu pada Martin, bahkan Sherlly sempat bilang sama Martin bahwa dia mungkin tidak akan menikah selamanya kalau sampai Martin menggagalkan rencana pernikahannya. Malam itu menjadi malam yang sangat mengharukan bagi mereka berdua walau hanya bertemu melalui hand phone, dan keduanya sama - sama menangis mengucurkan air mata.
Episode selanjutnya (Selingan)
K A U
DAPATKAH KAU MENERIMANYA
Dalam perjalanan ke kekampung Hand phone Martin berdering, Martin tidak mengenal nomor dari pemanggil tersebut, setelah diangkat terdengar suara lembut seorang perempuan diseberang sana “Hallo, saya Shelly yang di FS itu, ini Martin ya, apa kabar ?”.
Setelah mengingat – ingat Martin menjawab “Oh ya aku ingat, Bu dosen Muhammadyah itu kan ?,kabarnya baik aku lagi dalam perjalanan ke Pariaman mau pulang kampung, dan Shelly dimana, masih di kampus ya ?
“Iya, aku lagi nunggu hujan reda mau pulang, didepan kampus, tiba-tiba ingat Martin, maka aku coba telepon aja, gak menganggu kan ?” jawab Shelly lagi.
“Tidak, pada hal tadi aku lagi ingat kamu juga, rencananya tadi aku juga mau nelepon kamu tapi gak jadi karena keburu berangkat”, jawab Martin.
Shelly adalah seorang dosen pada suatu Universitas swasta yang ada di kota yang sama tempat Martin bertugas sebagai pelayanan masyarakat disebuah instansi pemerintah di kota tersebut.
Karena asik ngobrol dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mengendara mobil sambil menelepon dalam keadaan cuaca hujan lebat jalan licin, maka Martin sengaja memberhentikan mobilnya dulu ke pinggir.
Semenjak itu Martin sering telepon-teleponan dan saling curhat dengan Shelly. Shelly menyukai Martin yang lebih dewasa, dan Shelly merasa aman bila berada di samping Martin. Shelly mau menerima Martin apa adanya, walaupun Martin berstatus seorang duda beranak empat. Martin pun menerima Shelly dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apalagi Martin sangat mengharapkan fiur seorang ibu untuk anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
Tapi didalam hatinya Martin tetap berpikir apakah Shelly benar-benar mau menerima Martin dan anak-anaknya yang berjumlah empat orang. Baru menikah langsung dapat anak empat orang. Sebaliknya apakah anak-anaknya mau menerima Shelly sebagai pengganti ibunya yang telah tiada.
Episode selanjutnya :
SUDAH TERLANJUR SAYANG
Setelah mengingat – ingat Martin menjawab “Oh ya aku ingat, Bu dosen Muhammadyah itu kan ?,kabarnya baik aku lagi dalam perjalanan ke Pariaman mau pulang kampung, dan Shelly dimana, masih di kampus ya ?
“Iya, aku lagi nunggu hujan reda mau pulang, didepan kampus, tiba-tiba ingat Martin, maka aku coba telepon aja, gak menganggu kan ?” jawab Shelly lagi.
“Tidak, pada hal tadi aku lagi ingat kamu juga, rencananya tadi aku juga mau nelepon kamu tapi gak jadi karena keburu berangkat”, jawab Martin.
Shelly adalah seorang dosen pada suatu Universitas swasta yang ada di kota yang sama tempat Martin bertugas sebagai pelayanan masyarakat disebuah instansi pemerintah di kota tersebut.
Karena asik ngobrol dari pada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan mengendara mobil sambil menelepon dalam keadaan cuaca hujan lebat jalan licin, maka Martin sengaja memberhentikan mobilnya dulu ke pinggir.
Semenjak itu Martin sering telepon-teleponan dan saling curhat dengan Shelly. Shelly menyukai Martin yang lebih dewasa, dan Shelly merasa aman bila berada di samping Martin. Shelly mau menerima Martin apa adanya, walaupun Martin berstatus seorang duda beranak empat. Martin pun menerima Shelly dengan segala kelebihan dan kekurangannya, apalagi Martin sangat mengharapkan fiur seorang ibu untuk anak-anaknya yang masih kecil-kecil.
Tapi didalam hatinya Martin tetap berpikir apakah Shelly benar-benar mau menerima Martin dan anak-anaknya yang berjumlah empat orang. Baru menikah langsung dapat anak empat orang. Sebaliknya apakah anak-anaknya mau menerima Shelly sebagai pengganti ibunya yang telah tiada.
Episode selanjutnya :
SUDAH TERLANJUR SAYANG
Rabu, 30 April 2008
BILA AKU JATUH CINTA
Allahu Rabbi aku minta izin..
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untukmu berkurang
Hingga membuat hati lalai akan adanya engkau
Allahu Rabbi….
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhi lah hatiku dengan –
bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biarkan rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi...
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang,
yang hatinya penuh dengan Kasih-MU
dan membuat aku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukan dan satukanlah kami dalam suatu ikatan
Dan lindungilah kami dengan cinta dan kasih-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah…
Seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau Palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku Cinta-Mu
Cinta yang ga pernah pupus oleh waktu..
Aamin...
Episode selanjutnya :
DAPATKAH KAU MENERIMANYA
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untukmu berkurang
Hingga membuat hati lalai akan adanya engkau
Allahu Rabbi….
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhi lah hatiku dengan –
bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biarkan rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi...
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang,
yang hatinya penuh dengan Kasih-MU
dan membuat aku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukan dan satukanlah kami dalam suatu ikatan
Dan lindungilah kami dengan cinta dan kasih-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah…
Seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau Palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku Cinta-Mu
Cinta yang ga pernah pupus oleh waktu..
Aamin...
Episode selanjutnya :
DAPATKAH KAU MENERIMANYA
BETAPA MULYANYA HATIMU
Bu Sari mempunyai empat orang anak, dua orang laki - laki dan dua orang perempuan. Dari keempat anaknya dia telah mempunyai sebelas orang cucu. Sebagai seorang nenek Buk Sari tidak pernah pilih kasih kepada cucu-cucunya, baik cucu dari anak laki-laki maupun cucunya dari anak perempuannya. Padahal sebagai orang Minang garis keturunan adalah menurut turunan ibu, jadi cucu dari anak perempuanlah yang merupakan pewarisnya, sedangkan cucu dari anak laki-laki tidak termasuk dalam daftar ahli warisnya.
Sehingga kebiaasaan cucu dari anak laki-laki di Minangkabau tidak dengan neneknya, dan bahkan bertemupun dengan neneknya kadang hanya kalau ada acara-acara tertentu saja .
Melihat nasib Martin yang kerepotan mengurus empat orang anaknya yang masih kecil-kecil semenjak kematian istrinya, buk Sari sangat prihatin terhadap anak dan cucu-cucunya itu. Bu Sari rela meningalkan rumah, sawah dan pekerjaannya sehari – hari bersama suami sebagai pedagang sembako. Bu Sari ikut bersama Martin kekota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.
Tiap hari jam 04.30 Wib, bu Sari sudah bangun untuk menyiapkan air panas dan sarapan pagi untuk mandi pagi cucu-cucunya sebelum kesekolah dan untuk Martin sendiri.
Setelah anak-anak pergi kesekolah dan Martin sudah berangkat kekantor, bu Sari merapikan rumah, membereskan tempat tidur anak dan cucu-cucunya, menyapu dalam rumah dan perkarangannya, mencuci dan menyetrika pakaian Martin dan anak-anaknya, memasak dan mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Selain mengurus keperluan rumah bu Sari juga mempunyai tugas utama yaitu menjaga anak Martin yang nomor tiga bernama Fakhrul. Fahrul baru berumur empat tahun dan belum bersekolah. Martin berpesan kepada bu Sari agar bu Sari memperhatikan jadwal makan Fahkrul maklum anak kecil tidak mau makan kalau tidak di tawarakan dan dibujuk. Karena bermain adalah hal yang paling utama bagi anak-anak seusia Fahkrul. Dan Martin melarang anak – anaknya jajan sembarangan.
Sehingga dengan kesibukan dari subuh sampai malam hari untuk mengurus keluarga Martin membuat bu Sari hampir tidak sempat beristirahat. Tapi dengan ketulusan hatinya bu Sari secapek dan sesibuk apapun tidak pernah mengeluh. Rasa kasih sayangnya terhadap Martin dan cucu-cucunya menghilangkan rasa capek dan lelah.
Martin sendiri sebenarnya sangat kasihan melihat bu Sari yang kecapean mengurus dirinya dan anak-anak. Jika mencari pembantu untuk mengurus anak-anaknya dua empat jam susah juga. Maklum sebagai seorang duda muda takut terjadi fitnah, sehingga untuk sementara tetap bu Sari lah yang bisa membantunya.
Kadang tengah malam ketika terbangun Martin sengaja menengok bu Sari kekamarnya. Sekedar melihat apakah ada nyamuk mengganggu ibunya, apakah benar selimutnya. Betapa nyenyaknya tidur sang ibu yang kecapean setelah seharian mengurus anak-anak Martin. Walaupun wajah dan kulitnya sudah mulai keriput dimakan usia, tetapi dia tetap kuat, tegar dan tabah serta memliki hati yang tulus, ikhlas, putih dan suci seperti malikat.
Dalam hati Martin bergumam,”Betapa mulyanya hatimu oh Ibu. Bagaimana aku dapat mengurus anak-anakku jika tidak ada dirimu membantuku. Aku bangga dan berterima kasih padamu ibu. Dari mulai mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan dan sampai aku sudah menjadi seorang bapak dengan empat orang anak, kamu tetap aku repotkan, kasihmu tidak pernah putus. Jasamu tidak dapat aku lupakan, kaulah malaikatku”.
Episode selanjutnya : (selingan)
BILA AKU JATUH CINTA
Sehingga kebiaasaan cucu dari anak laki-laki di Minangkabau tidak dengan neneknya, dan bahkan bertemupun dengan neneknya kadang hanya kalau ada acara-acara tertentu saja .
Melihat nasib Martin yang kerepotan mengurus empat orang anaknya yang masih kecil-kecil semenjak kematian istrinya, buk Sari sangat prihatin terhadap anak dan cucu-cucunya itu. Bu Sari rela meningalkan rumah, sawah dan pekerjaannya sehari – hari bersama suami sebagai pedagang sembako. Bu Sari ikut bersama Martin kekota tempat Martin bertugas dan tinggal bersama anak-anaknya.
Tiap hari jam 04.30 Wib, bu Sari sudah bangun untuk menyiapkan air panas dan sarapan pagi untuk mandi pagi cucu-cucunya sebelum kesekolah dan untuk Martin sendiri.
Setelah anak-anak pergi kesekolah dan Martin sudah berangkat kekantor, bu Sari merapikan rumah, membereskan tempat tidur anak dan cucu-cucunya, menyapu dalam rumah dan perkarangannya, mencuci dan menyetrika pakaian Martin dan anak-anaknya, memasak dan mencuci piring dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Selain mengurus keperluan rumah bu Sari juga mempunyai tugas utama yaitu menjaga anak Martin yang nomor tiga bernama Fakhrul. Fahrul baru berumur empat tahun dan belum bersekolah. Martin berpesan kepada bu Sari agar bu Sari memperhatikan jadwal makan Fahkrul maklum anak kecil tidak mau makan kalau tidak di tawarakan dan dibujuk. Karena bermain adalah hal yang paling utama bagi anak-anak seusia Fahkrul. Dan Martin melarang anak – anaknya jajan sembarangan.
Sehingga dengan kesibukan dari subuh sampai malam hari untuk mengurus keluarga Martin membuat bu Sari hampir tidak sempat beristirahat. Tapi dengan ketulusan hatinya bu Sari secapek dan sesibuk apapun tidak pernah mengeluh. Rasa kasih sayangnya terhadap Martin dan cucu-cucunya menghilangkan rasa capek dan lelah.
Martin sendiri sebenarnya sangat kasihan melihat bu Sari yang kecapean mengurus dirinya dan anak-anak. Jika mencari pembantu untuk mengurus anak-anaknya dua empat jam susah juga. Maklum sebagai seorang duda muda takut terjadi fitnah, sehingga untuk sementara tetap bu Sari lah yang bisa membantunya.
Kadang tengah malam ketika terbangun Martin sengaja menengok bu Sari kekamarnya. Sekedar melihat apakah ada nyamuk mengganggu ibunya, apakah benar selimutnya. Betapa nyenyaknya tidur sang ibu yang kecapean setelah seharian mengurus anak-anak Martin. Walaupun wajah dan kulitnya sudah mulai keriput dimakan usia, tetapi dia tetap kuat, tegar dan tabah serta memliki hati yang tulus, ikhlas, putih dan suci seperti malikat.
Dalam hati Martin bergumam,”Betapa mulyanya hatimu oh Ibu. Bagaimana aku dapat mengurus anak-anakku jika tidak ada dirimu membantuku. Aku bangga dan berterima kasih padamu ibu. Dari mulai mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan dan sampai aku sudah menjadi seorang bapak dengan empat orang anak, kamu tetap aku repotkan, kasihmu tidak pernah putus. Jasamu tidak dapat aku lupakan, kaulah malaikatku”.
Episode selanjutnya : (selingan)
BILA AKU JATUH CINTA
Jumat, 25 April 2008
AKIBAT PERBEDAAN BUDAYA
Minangkabau adalah salah satu suku bangsa melayu di Indonesia yang tinggal seluruh propinsi Sumatera Barat dan di daerah lain sekitarnya. Disini tumbuh dan berkembang suatu budaya yang sangat unik berbeda dengan lain dimana disini garis keturunan diambil dari garis ibu (Matrilineal).
Untuk mempermudah mengetahui ranji atau silsilah keturunan seseorang diberi suku yang diturunkan dari ibu. Begitu pula dalam permasyalahan warisan harta pusaka maupun gelar kehormatan suatu kaum juga diambil dari turunan ibu. Sehingga harta pusaka orang Minangkabau pada umumnya dikuasai oleh anak perempuan dan anak laki – laki hanya mengawasi harta tersebut agar tidak jatuh ketangan orang lain.
Akibat perbedaan budaya Minangkabau dengan daerah – daerah lain di Indonesia ini menimbulkan berbagai dampak baik yang positif maupun yang negatifnya.
Salah satunya yang menrima dari perbedaan budaya tersebut yaitu keluarga Martin. Martin adalah turunan orang Minangkabau asli yang kedua orang tuanya berasal dari Pariaman yang memiliki adat yang sangat kuat unik.
Garis hidup yang tidak disangka - sangka sebelumnya bahwa dia akan meningggalkan Ranah Minang dan menginjak pulau Jawa. Setelah diangkat jadi pegawai negeri Martin ditempatkan dinas di Bandung. Tanah kelahiran, orang tua serta sang pujaan hatinya harus rela ditinggalkan.
Sebelum pergi orang tuanya berpesan, “Nak jangan lama kali di dinas di Pulau Jawa, cepat urus pindah kekampung”. “Hati-hati dan pandai-pandai menjaga diri di negeri orang!’.
“ Ya bu, nasehat ibu akan saya ingat dan akan saya usahakan untuk cepat bisa pindah kekampung ”, jawab Martin.
Tetapi dengan berjalannya waktu jauhnya jarak yang memisahkan akhirnya kisah cinta Martin juga ikut memudar, merenggang dan putus dengan gadis kembang desa di kampung halamannya.
Sekitar lima tahun lebih dinas di pulau Jawa Martin pun terpikat dengan seorang mojang priangan yang bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah persuhaan Garmen terbesar di Kota Bandung.
Setelah sudah punya anak dua Martin menyuruh istrinya berhenti bekerja, agar anak-anaknya lebih mendapat perhatian. Walaupun bekerja sendiri Martin masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagai sebuah keluarga kecil dan sederhana, ekonomi keluarga Martin termasuk sudah cukup baik. Meskipun tidak terlalu besar, di Bandung Martin sudah punya rumah sendiri.
Karena ibunya sudah tua dan selalu berpesan agar Martin pindah ke kampung, akhirnya Martinpun pindah tugas ke Padang bersama keluarganya.
Untuk menghemat pengeluaran Martin memanfaatkan fasilitas kantor dan tinggal di rumah dinas. Tahun pertama di Padang, istri nya hamil lagi dan melahirkan anak ke tiga seorang bayi laki-laki dengan operasi cesar.
Lima tahun kemudian walaupun ikut program kontrasepsi, istri Martin telat datang bulan, dan setelah dicek ternyata hamil. Tetapi sayang kehamilannya bermasyalah sampai akhirnya istrinya meninggal dunia karena mengalami pendarahan saat melahirkan anak ke empat dengan operasi sesar.
Setelah istrinya meninggal baru Martin merasakan akibat perkawinannya dengan seorang perempuan yang berbeda adat dan budaya dengan orangtuanya.
Martin bingung sekarang anaknya ikut suku bangsa apa. Ikut dia tidak bisa karena sesuai adat Minangkabau anak harus ikut suku ibunya (Matrilineal). Sedangkan kalau ikut ibunya juga tidak bisa, karena menurut adat sunda yang dianut keluarga ibunya dimana anak menurut garis keturunan ayah (Patrilineal).
Dalam hati Martin mengeluh,”Oh tuhan, malangnya nasib anakku, menurut adat keluargaku anakku adalah orang sunda, sedangkan menurut keluarga almarhumah ibunya dia adalah orang Padang”. “Apakah anakku harus kubuat suku Krakatau yang terletak ditengah selat Sunda antara Jawa dan Sumatera”.
Walaupun tidak mengharapkannya, secara adat anak Martin tidak mendapat warisan harta pusaka baik dari turunan Bapaknya maupun dari turunan ibunya.
“Inilah cobaan yang kuterima karena aku kurang mengindahkan nasehat ibu, dan ini lah akibat dari perkawianan yang berbeda budaya”, pikir Martin dalam hati.
Oleh karena itu Martin berpesan kepada seluruh pembaca :
Pikirkanlah dulu manfaat dan muradatnya, untung ruginya sebelum memutuskan sesuatu agar tidak terjadi penyesalan di akhir nanti.
Episode selanjutnya :
BETAPA MULYANYA HATIMU
Untuk mempermudah mengetahui ranji atau silsilah keturunan seseorang diberi suku yang diturunkan dari ibu. Begitu pula dalam permasyalahan warisan harta pusaka maupun gelar kehormatan suatu kaum juga diambil dari turunan ibu. Sehingga harta pusaka orang Minangkabau pada umumnya dikuasai oleh anak perempuan dan anak laki – laki hanya mengawasi harta tersebut agar tidak jatuh ketangan orang lain.
Akibat perbedaan budaya Minangkabau dengan daerah – daerah lain di Indonesia ini menimbulkan berbagai dampak baik yang positif maupun yang negatifnya.
Salah satunya yang menrima dari perbedaan budaya tersebut yaitu keluarga Martin. Martin adalah turunan orang Minangkabau asli yang kedua orang tuanya berasal dari Pariaman yang memiliki adat yang sangat kuat unik.
Garis hidup yang tidak disangka - sangka sebelumnya bahwa dia akan meningggalkan Ranah Minang dan menginjak pulau Jawa. Setelah diangkat jadi pegawai negeri Martin ditempatkan dinas di Bandung. Tanah kelahiran, orang tua serta sang pujaan hatinya harus rela ditinggalkan.
Sebelum pergi orang tuanya berpesan, “Nak jangan lama kali di dinas di Pulau Jawa, cepat urus pindah kekampung”. “Hati-hati dan pandai-pandai menjaga diri di negeri orang!’.
“ Ya bu, nasehat ibu akan saya ingat dan akan saya usahakan untuk cepat bisa pindah kekampung ”, jawab Martin.
Tetapi dengan berjalannya waktu jauhnya jarak yang memisahkan akhirnya kisah cinta Martin juga ikut memudar, merenggang dan putus dengan gadis kembang desa di kampung halamannya.
Sekitar lima tahun lebih dinas di pulau Jawa Martin pun terpikat dengan seorang mojang priangan yang bekerja sebagai manajer keuangan di sebuah persuhaan Garmen terbesar di Kota Bandung.
Setelah sudah punya anak dua Martin menyuruh istrinya berhenti bekerja, agar anak-anaknya lebih mendapat perhatian. Walaupun bekerja sendiri Martin masih sanggup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sebagai sebuah keluarga kecil dan sederhana, ekonomi keluarga Martin termasuk sudah cukup baik. Meskipun tidak terlalu besar, di Bandung Martin sudah punya rumah sendiri.
Karena ibunya sudah tua dan selalu berpesan agar Martin pindah ke kampung, akhirnya Martinpun pindah tugas ke Padang bersama keluarganya.
Untuk menghemat pengeluaran Martin memanfaatkan fasilitas kantor dan tinggal di rumah dinas. Tahun pertama di Padang, istri nya hamil lagi dan melahirkan anak ke tiga seorang bayi laki-laki dengan operasi cesar.
Lima tahun kemudian walaupun ikut program kontrasepsi, istri Martin telat datang bulan, dan setelah dicek ternyata hamil. Tetapi sayang kehamilannya bermasyalah sampai akhirnya istrinya meninggal dunia karena mengalami pendarahan saat melahirkan anak ke empat dengan operasi sesar.
Setelah istrinya meninggal baru Martin merasakan akibat perkawinannya dengan seorang perempuan yang berbeda adat dan budaya dengan orangtuanya.
Martin bingung sekarang anaknya ikut suku bangsa apa. Ikut dia tidak bisa karena sesuai adat Minangkabau anak harus ikut suku ibunya (Matrilineal). Sedangkan kalau ikut ibunya juga tidak bisa, karena menurut adat sunda yang dianut keluarga ibunya dimana anak menurut garis keturunan ayah (Patrilineal).
Dalam hati Martin mengeluh,”Oh tuhan, malangnya nasib anakku, menurut adat keluargaku anakku adalah orang sunda, sedangkan menurut keluarga almarhumah ibunya dia adalah orang Padang”. “Apakah anakku harus kubuat suku Krakatau yang terletak ditengah selat Sunda antara Jawa dan Sumatera”.
Walaupun tidak mengharapkannya, secara adat anak Martin tidak mendapat warisan harta pusaka baik dari turunan Bapaknya maupun dari turunan ibunya.
“Inilah cobaan yang kuterima karena aku kurang mengindahkan nasehat ibu, dan ini lah akibat dari perkawianan yang berbeda budaya”, pikir Martin dalam hati.
Oleh karena itu Martin berpesan kepada seluruh pembaca :
Pikirkanlah dulu manfaat dan muradatnya, untung ruginya sebelum memutuskan sesuatu agar tidak terjadi penyesalan di akhir nanti.
Episode selanjutnya :
BETAPA MULYANYA HATIMU
Kamis, 24 April 2008
KEMARAHANKU ADALAH PENYESALANKU
Selesai sholat magrib adalah jam belajar bagi anak-anak Martin. Dari mulai azhan magrib berkumandang televisi harus dimatikan. Martin dan anak-anak sholat berjamaah bersama. Selesai sholat anak-anak siap untuk belajar dan mengambil buku masing-masing. Sebagai orang tua tunggal Martin bertindak sebagai guru prifat untuk anak-anaknya.
Dalam urusan pelajaran Martin sangat keras mendidik anak-anaknya. Mungkin karena sifatnya dulu waktu sekolah adalah seorang anak yang pintar dan kutu buku sehingga setiap menerima rapor selalu juara kelas. Sampai sekarang walau sudah hampir dua puluh tahun yang lalu semua tugas PR anaknya yang paling besar yang duduk dibangku SMP kelas 1 bisa dikuasainya. Marlinda Santi sangat senang punya papah yang bisa sekaligus sebagai guru frivatnya dirumah. Setiap ada kesulitan didalam tugas PR nya, sang papah siap dan bisa membantunya.
Martin yang pintar dan cepat menangkap pelajaran waktu sekolah bila telah menerangkan dua, tiga kali kepada sang anak, tetapi masih belum ngerti juga membuat Martin gampang marah dan mengomeli anaknya.
“Masak belum mengerti juga sih, udah diterangkan berulang-ulang, makanya waktu belajar pikirkan pelajaran donk, jangan pikirannya main aja !’ kata Martin kalau udah kesal.
Anak-anak langsung sedih dan tidak jarang sampai menangis. Sehingga tujuan Martin tadinya ingin anaknya pintar cepat mengerti malah jadi nangis dan terganggu belajarnya.
Melihat itu akhirnya Martin merasa bersalah sendiri, apalagi ingat anaknya udah tidak punya ibu. Dalam hati Martin bergumam, “ Astagfirruhlah hal a’zim, mengapa aku kasar kali memarahi anak-anak, kasihan anak-anakku jadi sedih dan menangis, apalagi dia sudah tidak punya ibu ”.
Akhirnya Martin pun meminta maaf sama anak-anaknya. “Maafkan papah ya, papah sangat menyayangimu dan tidak ingin menyakitimu. Semua itu papah lakukan karena papah ingin anak papah jadi anak yang pintar berguna bagi bangsa dan negaranya serta berbhakti kepada orang tua...., sekali lagi maafkan papah !” kata Martin sambil merangkul anak-anaknya. Tidak jarang air mata Martin pun ikut menetes membasahi pipinya. Dalam hati Martinpun berjanji untuk tidak memarahi anaknya lagi.
“Oh tuhan berilah aku kesabaran dan kekuatan dalam mendidik anak-anakku, aku tidak ingin memarahinya bila itu tidak perlu sekali karena kemarahanku adalah penyesalanku ” kata jeritan hati Martin.
Episode berikutnya..
AKIBAT PERBEDAAN BUDAYA
Dalam urusan pelajaran Martin sangat keras mendidik anak-anaknya. Mungkin karena sifatnya dulu waktu sekolah adalah seorang anak yang pintar dan kutu buku sehingga setiap menerima rapor selalu juara kelas. Sampai sekarang walau sudah hampir dua puluh tahun yang lalu semua tugas PR anaknya yang paling besar yang duduk dibangku SMP kelas 1 bisa dikuasainya. Marlinda Santi sangat senang punya papah yang bisa sekaligus sebagai guru frivatnya dirumah. Setiap ada kesulitan didalam tugas PR nya, sang papah siap dan bisa membantunya.
Martin yang pintar dan cepat menangkap pelajaran waktu sekolah bila telah menerangkan dua, tiga kali kepada sang anak, tetapi masih belum ngerti juga membuat Martin gampang marah dan mengomeli anaknya.
“Masak belum mengerti juga sih, udah diterangkan berulang-ulang, makanya waktu belajar pikirkan pelajaran donk, jangan pikirannya main aja !’ kata Martin kalau udah kesal.
Anak-anak langsung sedih dan tidak jarang sampai menangis. Sehingga tujuan Martin tadinya ingin anaknya pintar cepat mengerti malah jadi nangis dan terganggu belajarnya.
Melihat itu akhirnya Martin merasa bersalah sendiri, apalagi ingat anaknya udah tidak punya ibu. Dalam hati Martin bergumam, “ Astagfirruhlah hal a’zim, mengapa aku kasar kali memarahi anak-anak, kasihan anak-anakku jadi sedih dan menangis, apalagi dia sudah tidak punya ibu ”.
Akhirnya Martin pun meminta maaf sama anak-anaknya. “Maafkan papah ya, papah sangat menyayangimu dan tidak ingin menyakitimu. Semua itu papah lakukan karena papah ingin anak papah jadi anak yang pintar berguna bagi bangsa dan negaranya serta berbhakti kepada orang tua...., sekali lagi maafkan papah !” kata Martin sambil merangkul anak-anaknya. Tidak jarang air mata Martin pun ikut menetes membasahi pipinya. Dalam hati Martinpun berjanji untuk tidak memarahi anaknya lagi.
“Oh tuhan berilah aku kesabaran dan kekuatan dalam mendidik anak-anakku, aku tidak ingin memarahinya bila itu tidak perlu sekali karena kemarahanku adalah penyesalanku ” kata jeritan hati Martin.
Episode berikutnya..
AKIBAT PERBEDAAN BUDAYA
Langganan:
Komentar (Atom)
